• STATISTIK NON-PARAMETRIK



    Salah satu bagian penting dalam ilmu statistika adalah persoalan inferensi yaitu penarikan
    lesimpulan secara statistik. Dua hal pokok yang menjadi pembicaraan dalam statistik inferens
    adalah penaksiran parameter populasi dan uji hipotesis.
    Teknik inferensi yang pertama dikembangkan adalah mengenai pembuatan sejumlah
    besar asumsi sifat populasi di mana sampel telah diambil. Teknk yang banyak digunakan pada
    metode-metode pengujian hipotesis dan penafsiran interval ini kemudian dikenal sebagai Statistik
    Parametrik, karena nilai-nilai populasi merupakan parameter. Distribusi populasi atau distribusi
    variabel acak yang digunakan pada teknik inferensi ini mempunyai bentuk matematik yang
    diketahui, akan tetapi memuat beberapa parameter yang tidak diketahui.
    Permasalahan yang harus diselesaikan adalah menaksir parameter-parameter yang tidak
    diketahui tersebut dengan data sampel atau melakukan uji hipotesis tertentu yang berhubungan
    dengan parameter populasi.
    Pada kenyataannya sangatlah sulit untuk mendapatkan sampel yang memenuhi asumsi
    mempunyai distribusi tertentu. Kebanyakan sampel yang diperoleh hanyalah sebatas mendekati
    tertentu, seperti mendekati normal. Bahkan banyak juga sampel yang distribusinya tidak
    diketahui sama sekali. Oleh karena itu kemudian dikembangkan suatu teknk inferensi yang tidak
    memerlukan uji asumsi-asmsi tertentu mengenai distribusi sampelnya, dan juga tidak
    memerlukan uji hipotesis yang berhubungan dengan parameter populasinya. Teknik statistik ini
    dikenal dengan Statistik Bebas Distribusi atau Statistik Non-Parametrik.
    Sudah tentu apabila asumsi-asumsi tertentu yang diperlukan dalam suatu pengujian dapat
    dipenuhi, maka seharusnya uji non-parametrik tidak digunakan. Uji non-parametrik digunakan
    sebagai alternatif, bila mana distribusi sampel tidak dapat memenuhi asumsi distribusi normal.
  • Filsafat ilmu manajemen



    Dalam pembahasan ini akan dijelaskan tentang bagaimana filsafat ilmu manajemen dari sudut ontologi, epistemologi dan aksiologi.
    1. Ontologi
    Ontologi kadang-kadang disamakan dengan metafisikaIstilah metafisika itu pertama kali dipakai oleh Andronicus dari Rhodesia pada zaman 70 tahun sebelum Masehi. Artinya adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat supra-fisis atau kerangka penjelasan yang menerobos melampaui pemikiran biasa yang memang sangat terbatas atau kurang memadai. Makna lain istilah metafisika adalah ilmu yang menyelidiki kakikat apa yang ada dibalik alam nyata. Jadi, metafisika berati ilmu hakikat. Ontologi pun berarti ilmu hakikat.
    Yang dimasalahkan oleh ontologi dalam ilmu Manajemen adalah siapa yang membutuhkan manajeman?. Pertanyaan ini sering dijawab perusahaan (bisnis), tentu saja benar sebagian tetapi tidak lengkap karena manajeman juga dibutuhkan untuk semua tipe kegiatan yang diorganisasi dan dalam semua tipe organiasasi.
  • Filsafat


                       
    Pengertian dan penjelasan tentang Ontologi
    Sebelum kita mengkaji landasan ontologis dalam ilmu manajemen maka kita akan mengkaji terlebih dahulu tentang masaalah ontology.Filsafat tentang tametata physika Aristoteles berpusat pada to hei on,artinya pengada sekedar pengada. Kata yunani on merupakan bentuk netral dari oon dengan bentuk negatifnya ontos.kata itu adalah bentuk partisipasif dari kata kerja einai ( ‘ada’ atau ‘mengada’ ), jadi berarti yang-ada atau pengada. Maka objek material bagi filsafat pertama itu terdiri dari segala-galanya yang ada. Dan dari segi formal ha-hal itu di tinjau bukan menurut aspek ini atau itu yang terbatas, bukan juga sekedar manusia atau dunia atau tuhan, tetapi menurut sifat atau hal mengadanya. Oleh karena itu walaupun Aristoteles sama sekali belum mempergunakan nama itu, filsafat pertama ini kemudian hari akan disebut ontology
    Namun Aristoteles belum pula menyadari segala implikasi penemuannya itu. Sebelum Aritoteles bagi plato sifat “ada” belum memiliki arti yang sangat istimewa. Jika dalam karyanya sophists diterangkan jenis-jenis paling pokok yang termuat dalam konsep-konsep pengertian, maka plato menyejajarkan “ada” dan “tidak-ada” identik dan berlainan, bergerak dan tidak-bergerak. Dengan keliru Aristoteles sendiri masih berpendapat bahwa “mengada” itu hanya merupakan salah satu sifat di samping sifat-sifat lain, walaupun sekaligus merupakan dasar pula untuk segala-galanya. Dan sesudah Aristoteles, Platinos juga hanya akan mengikuti “mengada” sebagai sifat alam-dunia (physis) belaka. Menurut dia sifat mangada itu di angkat dan di atasi oleh sifat “hidup” dan “berpikir”. Baru Thomas Aquinas akan mengelola rumus Aristoteles sedemikian rupa, sehingga mencapai kepadanya yang penuh, yaitu “mengada” sebagai sifat yang melengkapi dan yang mendasari segala sifat lainnya.
  • Penerapan Teknologi Maju di Indonesia



    Teknologi Maju yang padat modal dicetuskan dalam Pembangunan Indonesia karena bcrbagat pertimbangan, yaitu :
    • Pembangunan Sektor Industrr yang menggunakan Teknologi Modern yang mutakhir merupakan pertanda bahwa suatu negara sanggup untuk secara ekonomi berkembang.
    • Perlu diadakan Investasi dengan Proyeksi yang jauh kemasa depan.
    • Penggunaan dari Teknologi Modern dan Maju memungkinkan manager dan pekerja untuk menguasai keterampilan-ketrampilan yang harus dipunyai untuk dapat menggerakkan ekonomi yang modern.
    • Industri-industri yang mempunyai laju pertumbuhan besar adalah Industri-industri yang menggunakan Teknologi Maju.
    • Derajat intensitas modal yang besar dari industri modem memungkinkan dikumpulkannya surplus yang besar yang kemudian dapat diinvestasikan untuk mendapatkan laju portumbuhan yang lebih besar lagi.
      Penggunaan Teknologi Maju pada negara-negara berkembang pada umumnya gagal untuk menghasilkan laju pertumbuhan yang diperkirakan, dan malah dicap sebagai biang keladi dari
    • Ketidakmampuan dari ekonomi yang dihasilkan dari strategi tersebut untuk menciptakan lapangan kerja yang cukup bagi angkatan kerjanya.
    • Pendorong urbanisasi, yang menyebabkan masalah-masalah urban yang kompleks dan menakutkan di kota-kota atau didaerah urban.
  • TEKNOLOGI DAN KEBUDAYAAN


    Teknologi dan Pembangunan
    Negara Indonesia melaksanakan pembangunan untuk menjadikan negeri ini menuju suatu negara yang makmur. Dalam pembangunan tersebut akan diperiukan SDM (sumber daya manusia) , Teknologi dan Kapital (Resources).
    SDM diperlukan, karena dalam pembangunan diperlukan : Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengendalian / Evaluasi. Kualitas SDM akan sangat mempengaruhi hasil pembangunan. Kualitas SDM tersebut meliputi: Pendidikan / Pelatihan (Kemampuan), Kejujuran, Kedisiplinan, Etos Kerja, dll. Kita bisa melihat berbagai fakta bahwa kualitas SDM adalah modal yang paling pokok dalam pembangunan, karena karena berapapun besarnya Kapital (resources) yang dipergunakan, apapun teknologi yang dipergunakan (dibeli) namun bila kwalitas SDM nya rendah maka kegagalan pembangunan akan menghadang kita semua.
    Teknologi adalah suatu perangkat atau sarana yang diperlukan dalam suatu proses pembangunan. Kita membangun gedung bertingkat, maka diperlukan teknologi. Demikian pula dalam membangun saran transportasi (Kapat, Pesawat Terbang, Kereta Api, dll.) maka diperlukan teknologi. Teknologi diperlukan dalam proses pembangunan, schingga dalam proses pembangunan tersebut hasilnya (produknya) baik, tepat waktu, efesien, kompetitif (kualitas dan harga), dan lain sebagainya. Teknologi yang diperlukan dalam pembangunan bias tersedia, namun dalam dunia ketiga lazimnya harus diperoleh dari negara maju. Cara memperoleh teknologi (trasfer teknologi) dari negara maju dapat dilakukan dengan beberapa hal, misalnya lisensi, pembelian patent dan lain-lainnya. Untuk melakukan suatu proses transfer teknologipun diperlukan suatu kondisi, misalnya adanya suatu pemerintahan yang stabil.
  • Etimologi Manajemen


    Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.[1] Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal.[2] Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.[3] Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.[4]

    Etimologi
    Kata manajemen mungkin berasal dari bahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti "mengendalikan," terutamanya "mengendalikan kuda" yang berasal dari bahasa latin manus yang berati "tangan". Kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis manège yang berarti "kepemilikan kuda" (yang berasal dari Bahasa Inggris yang berarti seni mengendalikan kuda), dimana istilah Inggris ini juga berasal dari bahasa Italia.[5] Bahasa Prancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.[1]

    Sejarah Perkembangan Ilmu Manajemen
    Banyak kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen. Namun diketahui bahwa ilmu manajemen telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya piramida di Mesir.[6] Piramida tersebut dibangun oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Piramida Giza tak akan berhasil dibangun jika tidak ada seseorang—tanpa memedulikan apa sebutan untuk manajer ketika itu—yang merencanakan apa yang harus dilakukan, mengorganisir manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan sesuai rencana.
  • ILMU DAN TEKNOLOGI


    Menurut pengertian bahasa, ilmu dapat diterjemahkan sebagai. pengetahuan. Sehingga nama pengetahuan menceminkan adanya redudensi peristilahan (words redudancy), yang tujuannya untuk lebih menegaskan suatu makna, seperti jatuh ke bawah, naik ke atas dan lain sebagainya. Ada dua jems pengetahuan, yaitu "pengetahuan ilmiah" dan "Pengetahuan Biasa". Pengetahuan Biasa (knowledge) diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan pikiran, pengalaman, pancaindera dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaannya. Sedangkan "Pengetahuan Ilmiah" (science) juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan obyek, cara yang digunakan dan kegunaan dari pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah memperhatikan obyek ontologis, landasan epistemologis dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Baik Science atau knowledge pada dasamya keduanya merupakan hasil observasi pada fenomena alam atau fenomena sosial. Dengan demikian, ilmu pengetahuan memiliki cakupan yang amat luas, yaitu ilmu pengetahuan alam, sosial budaya dan seterusnya.

    Penjelasan di atas, merupakan penjelasan umum ilmu dan keterkaitannya dengan istilah Seins (Science) dan Knowledge, namun apabila dilihat dari sisi bawah makna yang terkandung dalam kata ilmu perlu lebih ditegaskan. Untuk menghindari kesalahpahaman, perlu dilakukan pambahasan tentang peristilahan Sains dan ilmu. Seringkali istilah Sains (Science) dan Ilmu ('Ilm) disepadankan, sehingga memberikan pensifatan yang sepadan pula yaitu antara Scientific dengan ilmiah. Penyepadanan antara ilmu dengan Sains, dimana Sains hanya berkaitan dengan obyek-obyek inderawi adalah menyempitkan makna ilmu yang sebenamya. Konsekwensi dari penyepadanan tersebut adalah mengeluarkan obyek-obyek yang tidak bisa diketahui, namun bisa dikenali (Ma'rifah), seperti hal-hal yang terkait dengan "ke-Tuhanan" dikeluarkan dari wilayah ilmu. Implikasi lebih jauhnya, tersirat dalam penggunaan kata "Ilmiah" (Scientific).
  • Copyright © 2013 - Unbreakable Machine Doll - Ilmu Bermanfaat - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan