Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
  • Agar Buah Hati Menjadi Penyejuk Hati

    Oleh: Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni, Lc. MA

    Kehadiran sang buah hati dalam sebuah rumah tangga bisa diibaratkan seperti keberadaan bintang di malam hari, yang merupakan hiasan bagi langit. Demikian pula arti keberadaan seorang anak bagi pasutri, sebagai perhiasan dalam kehidupan dunia. Ini berarti, kehidupan rumah tangga tanpa anak, akan terasa hampa dan suram. Allah berfirman :

    الْ ا ملُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصّالِحَاتُ خَ ر يٌ عِنْدَ رَبّكَ ثَوَاباً وَخَ ر يٌ أمَلَاً

    “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (Al-Kahfi: 46).

    Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:

    يَا أَيُّهَا الّذِينَ آمَنُوا إِنّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْ ادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ لََ
    فَاحْذَرُوهُمْ

    “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (At Taghaabun:14)
    Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakuakan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah.

    Ketika menafsirkan ayat di atas, syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dan Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…”
  • Teliti Memilih Herbal

    Penulis : dr. Avie Andriyani
    Obat Herbal, Antara Pro dan

    Kontra Tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan herbal dalam praktek pengobatan selalu
    menarik perhatian banyak pihak. Di satu sisi, kalangan yang pro selalu mendengungkan bahwa obat herbal aman dikonsumsi karena telah digunakan selama berabad-abad lamanya oleh nenek moyang kita. Di sisi lain, kalangan akademisi senantiasa menekankan pada aspek bukti ilmiah yang harus menyertai bahan yang digunakan untuk proses pengobatan. Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, kenyataan menunjukkan bahwa praktek penggunaan obat herbal telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak dahulu.

    Herbal sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan, baik dalam rangka mengobati penyakit maupun sekedar untuk pemeliharaan stamina tubuh. Mahalnya biaya pengobatan medis juga menyebabkan masyarakat lebih memilih herbal, apalagi seringkali didukung dengan cerita atau testimoni (kesaksian) dari beberapa orang yang telah membuktikan kemanjuran herbal. Seiring berkembangnya penggunaan herbal, produsen obat herbal banyak bermunculan dan berlomba-lomba menawarkan produk herbal yang terbaik bagi para konsumen. Bahkan ada oknum produsen obat herbal yang melakukan tipu daya dengan menambahkan obat-obatan kimia untuk meningkatkan khasiatnya. Padahal, kandungan zat kimia pada obat herbal bisa berbahaya karena seringkali dosisnya tidak terkontrol.

    Permasalahan dalam Penggunaan Obat Herbal
    Penggunaan obat herbal ternyata tidak terlepas dari berbagai permasalahan. Berikut ini beberapa masalah yang muncul dalam pemanfaatan obat herbal di bidang kesehatan :
  • Merawat Anak yang Terkena KIPI

    Oleh: Arif Rohman Mansur, S.Kep.Ns

    Definisi KIPI
    Pembaca majalah kesehatan muslim yang semoga dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama membahas tentang cara merawat anak yang mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau dalam istilah bahasa inggris dikenal sbagai adverse event following Immunization (AEFI). Dalam ilmu kedokteran setiap jenis terapi biasanya memiliki risiko relatif (Relatif Risk) atau risiko yang mungkin timbul karena suatu terapi yang diberikan guna mencegah atau mengatasi suatu penyakit.

    KIPI menurut KEPMENKES 1626 Tahun 2005 yaitu kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi, baik berupa efek vaksin ataupun efek samping, keracunan, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, kesalahan program, koinsidensi (faktor kebetulan), reaksi suntikan, atau hubungan sebab akibat tidak dapat ditentukan yang dapat terjadi setelah pemberian vaksin atau imunisasi pada anak. KIPI dapat terjadi dalam kurun waktu 24 jam sampai 12 bulan atau lebih selama diyakini oleh tenaga kesehatan dan masyarakat hal itu terjadi setelah pemberian imunisasi.

    Yang perlu kita cermati bersama bahwa timbulnya risiko pada suatu pengobatan tidak selalu disebabkan oleh obat atau vaksin yang diberikan. Hal ini dapat terjadi karena kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta penyimpanan vaksin, kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, penyakit yang sebelumnya telah diderita atau semata-mata kejadian yang timbul secara kebetulan yaitu ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama di saat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakteristik serupa tetapi tidak mendapat imunisasi. Hal ini sesuai telaah laporan KIPI oleh Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine (IOM) USA menyatakan bahwa sebagian besar KIPI terjadi karena kebetulan saja. Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan (programmatic errors). Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi.
  • Abu Sa’id Al-Khudri Mengobati Menggunakan Al-Fatihah

    Terdapat satu kisah sahabat Abu Sa’id Al-Khudri yang mengobati dengan membaca bacaan ruqyah kepada orang yang terkena gigitan racun kalajengking. Beliau menggunakan A-Fatihah sebagai bacaan ruqyah dan berhasil. Yang sebelumnya hampir lumpuh tidak bisa berjalan, tiba-tiba sembuh seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Berikut kisahnya dalam hadits,

    لِفى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنّ سَيّدَ الْحَىّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَ ر بَأَ الرّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَ ى ب أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنّبِىّ -ص ى الله عليه لِ
    وسلم-. فَأَ ىت ىت النّبِىّ -ص ى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللّهِ وَاللّهِ مَا رَقَيْتُ لَخُذُوا مِنْهُمْ وَا ر ضِبُوا ى ل « ثُمّ قَالَ .» وَمَا أَدْرَاكَ أَنّهَا رُقْيَةٌ « إِ لالّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسّمَ وَقَالَ
    » بِسَهْمٍ مَعَكُمْ

    “Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu berada dalam perjalanan safar, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyahkarena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al Fatihah. pembesar tersebutpun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya -dan disebutkan-, ia mau menerima sampai kisah tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al Fatihah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah?” Beliau pun bersabda, “Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Benarkah Tahnik Adalah Imunisasi dalam Islam?

    Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

    Sekelompok orang mengklaim bahwa tahnik adalah imunisasi dalam ajaran Islam atau diklaim sebagai imunisasi yang Islami. Pendapat ini umumnya diusung oleh kelompok antivaksin untuk menolak vaksinasi.
    Dalam tulisan ini, kami akan membawakan beberapa penjelasan ulama mengenai hikmah tahnik. Dari beberapa penjelasan ulama disimpulkan bahwa ternyata pernyataan “tahnik adalah imunisasi dalam islam” tidak tepat. Berikut pembahasannya

    Definisi Tahnik dan Hadits-hadits Tentang Tahnik
    Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan pengertian tahnik,“Tahnik ialah mengunyah sesuatu kemudian meletakkan/ memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit (mulut)nya. Dilakukan demikian kepada bayi agar supaya ia terlatih terhadap makanan dan untuk menguatkannya. Dan yang patut dilakukan ketika mentahnik hendaklah mulut (bayi tersebut) dibuka sehingga (sesuatu yang telah dikunyah) masuk ke dalam perutnya. Dan yang lebih utama (ketika) mentahnik ialah dengan kurma kering (tamr). Jika tidak mudah mendapatkan kurma kering (tamr) maka dengan kurma basah (ruthab) . Dan kalau tidak ada kurma dengan sesuatu yang manis dan tentunya madu lebih utama dari yang lainnya (kecuali kurma)". (Fathul Baari 9/558)

    Hadits-hadist mengenai tahnik di antaranya :
    Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Burdah dari Abu Musa, dia berkata,

    وُلِدَ ى ل غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -ص ى الله عليه وسلم- لِ
    فَسَ ا مَهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍّ
  • ASI Sebagai “Imunisasi” Alami

    Penulis : dr. Avie Andriyani

    ASI Merupakan Makanan Terbaik Bagi Bayi Tidak diragukan lagi mengenai keunggulan ASI (Air
    Susu Ibu) yang merupakan makanan terbaik bagi bayi. Hampir semua kalangan, termasuk dunia kedokteran
    ikut menganjurkan supaya ibu lebih memilih ASI dibandingkan susu sapi atau susu formula. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

    وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَ كَامِلَ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ“

    Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan… “ (Al-Baqarah 233)

    Sungguh disayangkan masih banyak ibu yang enggan menyusui bayinya, hanya karena alasan sibuk bekerja, untuk menjaga penampilan, dan alasan-alasan lain. Padahal, berbagai penelitian telah membuktikan ada banyak sekali manfaat ASI dan menyusui, baik bagi bayi maupun bagi sang ibu. Selain
    aman, higienis, bergizi, dan ekonomis, ASI juga mengandung zat-zat kekebalan tubuh yang tidak dimiliki oleh susu formula yang termahal sekalipun. Bahkan ketika produsen susu berlomba-lomba meniru komposisi ASI, maka tidak akan bisa menirunya dengan tepat.

    Terbukti bahwa bayi yang mendapat ASI kurang berisiko mengalami berbagai infeksi, seperti infeksi saluran nafas bagian bawah, infeksi saluran kemih, infeksi telinga, dan septisemia (infeksi darah) di tahun pertama kehidupannya. Sebagian perlindungannya ini karena proses pemindahan faktor-faktor imun (kekebalan tubuh) di dalam ASI dan bahan pra-susu atau kolostrum.
  • Imunisasi Dalam Pandangan Syariat

    Penyusun : dr. Raehanul Bahraen

    Status halal-haram imunisasi dan vaksinasi menjadi perdebatan yang sengit dan bahkan “panas”. Bak di luar negeri maupun di Indonesia, terlebih lagi negara kita mayoritas muslim. Berikut sedikit pembahasan mengenai hal ini.

    Setelah berkonsultasi dan berdiskusi dengan beberapa ustadz dan melihat beberapa fatwa ulama, hati kami merasa lebih tentram dengan condong bahwa imunisasi insyaAllah halal. Wallahu ‘alam, kami memang punya dasar pendidikan kedokteran, mungkin ada yang mengira kami terpengaruh oleh ilmu kami sehingga mendukung imunisasi dan vaksinasi. Akan tetapi, justru karena kami punya dasar ilmu tersebut, kami bisa menelaah lebih dalam lagi dan mencari fakta-fakta yang kami rasa lebih menentramkan hati kami. Berikut kami berusaha menjabarkannya dan menjawab apa yang menjadi alasan mereka menolak imunisasi.

    Vaksin haram?
    Ini yang cukup meresahkan karena Indonesia sebagian besar muslim. Namun mari kita kaji, kita ambil contoh vaksin polio atau vaksin meningitis dengan produksinya menggunakan enzim tripsin dari serum babi. Belakangan ini menjadi buah bibir karena cukup meresahkan jama’ah haji yang diwajibkan pemerintah Arab Saudi vaksin, karena mereka tidak ingin terkena atau ada yang membawa penyakit tersebut ke jama’ah haji di Mekkah.

    Banyak penjelasan berbagai pihak, salah satunya dari Direktur Perencanaan danPengembangan PT. Bio Farma, Drs. Iskandar, Apt., M., mengatakan bahwa enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV).
  • Imunisasi Dalam Pandangan Medis

    Imunisasi adalah investasi kesehatan masa depan karena pencegahan penyakit melalui imunisasi merupakan cara perlindungan paling efektif terhadap penyakit infeksi dan jauh lebih murah dibanding mengobati seseorang apabila telah jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

    Dengan imunisasi, anak akan terhindar dari penyakit infeksi berbahaya sehingga mereka memiliki kesempatan beraktifitas, bermain, belajar tanpa terganggu masalah kesehatan. Namun demikian, sampai saat ini masih terdapat masalah-masalah dalam pemberian imunisasi, antara lain pemahaman orang tua yang masih kurang pada sebagian masyarakat tentang manfaat imunisasi, mitos salah tentang imunisasi, sampai jadwal imunisasi yang terlambat.

    Kesehatan adalah Dambaan Setiap Insan
    Merupakan keinginan semua orang tua untuk mempunyai anak yang sehat, tidak sakit, dan tidak cacat, serta memiliki pertumbuhan dan perkembangannya optimal. Paradigma anak sehat meliputi sehat fisik, sehat kognitif dan sehat emosi-sosial-moral.

    Sehat fisik, artinya pertumbuhan dan perkembangan fisik optimal, ditunjukkan dengan perubahan tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, pematangan fungsi organ-organ tubuh sesuai dengan umur. Sehat kognitif, artinya anak mempunyai kemampuan untuk mengenali, mengerti, mengingat, membandingkan, mencocokkan, menggabungkan, merangkai, mengekspresikan, menghasilkan ide, pengetahuan, dan ketrampilan baru. Sehat emosi-sosial-moral, artinya anak gembira, berani, optimis, percaya diri, dapat mengeksplorasi lingkungan, dapat mengendalikan diri, beradaptasi dengan lingkungan, mengerti baik-buruk, benar-salah, boleh-tidak boleh.
  • Antara Tawakkal dan Pengobatan

    Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.

    Berdasarkan keyakinan ini, sebagian kaum muslimin bersikap hati-hati bahkan menjauhi berbagai praktek pengobatan, karena diyakini dapat menodai kemurnian tawakkal diri kepada Allah.Sikap semacam ini tentu mengundang kontroversi bagi kebanyakan ummat Islam, terlebih di tengah kemajuan pesat ilmu dan tekhnologi pengobatan medis.

    Hukum Berobat.
    Berobat sejatinya hanyalah suatu upaya untuk menghilangkan penyakit yang mengganggu kesehatan, sebagaimana makan dan minum adalah upaya untuk menghilangkan rasa haus dan lapar. Sebagaimana halnya makan dan minum adalah upaya yang dibenarkan secara syari'at, maka demikian pula halnya dengan pengobatan, karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

    لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ
    عَزَّ وَجَلَّ

    "Setiap penyakit pastilah ada penawarnya, karenanya bila obat suatu penyakit telah didapatkan dengan tepat, maka -dengan izin Allah Azza wa Jalla- penyakitpun menjadi sembuh". (HR. Muslim)
    Pada hadits ini dan juga lainnya terdapat penjelasan tentang kaitan antara sebab dan akibat. Sebagaimana terdapat penjelasan bahwa mengikuti hubungan antara sebab dan akibatnya tidaklah bertentangan dengan kewajiban bertawakkal kepda Allah Azza wa Jalla. Bagaikan makan dan minum untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga tidaklah menodai keutuhan tawakkal Anda kepada Allah, demikian pula dengan pengobatan.
  • Berbahagia ketika Sakit

    Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits, ST, BA

    Tiada gading yang tak retak. Itulah ungkapan pepatah yang sering kita dengar. Sebagaimana gading, tiada manusia yang tidak pernah sakit. Saya, Anda, dia, mereka, siapapun orangnya, pasti pernah merasakan sakit. Karena kita pasti sakit, maka yang sangat penting untuk kita perhatikan adalah bagaimana kita bisa menjadi hamba yang baik ketika sakit. Sakit itu pasti, sementara bagaimana cara mengambil sikap yang terbaik ketika sakit, itu kembali kepada pilihan kita.

    Kita bisa mendapatkan banyak pahala ketika sakit. Sebaliknya, sakit yang kita derita juga bisa menjadi sumber dosa dan turunnya murka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

    وَإِنّ اللّهَ إِذَا أَحَبّ قَوْمًا ابْتَ ا لهُمْ، فَمَنْ رَ ي ضَ فَلَهُ الرّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السّخَطُ

    “Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka denagn musibah. Siapa yang ridha dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang marah dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan murka Allah.” (HR. Ahmad 23623, shahih),

    Mari kita perhatikan hadis di atas. Sesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada para hamba, hakikatnya didasari kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Karena seorang hamba akan bisa mendapatkan derajat yang lebih tinggi, ketika mereka mendapatkan ujian dan mampu bersabar terhadap ujian tersebut. Namun ada dua sikap manusia yang berbeda. Ada yang memahami musibah itu dengan baik, sehingga dia bisa ridha terhadap ujian yang Allah berikan. Dia berkeyakinan bahwa ujian ini adalah sumber pahala baginya. Sehingga sama sekali dia tidak merasa didzalimi oleh Allah. Di saat itulah, Allah akan memberikan keridhaan dan pahala yang besar kepadanya.
  • BahraenSejarah Perdukunan Dalam Pandangan Islam

    Oleh : dr. Raehanul Bahraen Sejarah

    Perngertian dukun
    Di zaman dahulu masyarakat Arab mengenal beberapa istilah berkaitan dengan dukun yang intinya seputar praktik sihir, ramal, dan perdukunan. Beberapa istilah tersebut:
    1. Kaahin
    Yaitu orang yang mengklaim bisa mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pendapat lain bahwa mereka adalah orang yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati.
    2. ‘Arraf
    Yaitu orang yang mengaku-ngaku mengetahui urusan-urusan tertentu melalui cara-cara tertentu, misalnya barang hilang dengan ciri-crir tertentu dan tempat tertentu.
    3. Rammaal
    Yaitu orang yang meramal dengan cara menggaris-garis di pasir untuk meramal sesuatu
    4. Munajjim (ahli ilmu nujum)
    Mirip dengan astrologi (ilmu perbintangan). Yaitu orang yang meramal dengan menggunakan ilmu perbintangan.
    5. Saahir (tukang sihir)
    Yaitu penyihir dengan berbagia macam sihir. Mulai dari sihir cinta, sihir benci sampai sihir yang menyebabkan kematian.

    Semua istilah ini pada umumnya sama yaitu berkaitan dengan mengetahui hal ghaib, ramalan kejadian, ramalan nasib, mengetahui barang hilang, dan sekaligus perbuatan sihir. Semua umumnya “satu paket”. Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Al-‘Arraf, adalah sebutan bagi kaahin, munajjim, dan rammaal, serta yang sejenis dengan mereka, yang berbicara dalam hal mengetahui perkara-perkara semacam itu dengan cara-cara semacam ini.”

    Di zaman ini juga berbagai istilah bagi para dukun dan tukang sihir mulai dari istilah yang butuk, seram sampai istilah yang dihias-hias dengan kebaikan. Misalnya paranormal, orang pintar, orang tua, spiritualis, ahli metafisika, kyai, romo, ki joko dan lain-lain
  • Salah Paham Tentang Thibbun Nabawi

    Oleh dr. Raehanul Bahraen.

    Ada kejadian di mana seorang sakit, merasa tidak enak di perut dan demam, ia berobat dengan habbatus sauda’ dan madu karena ia yakin dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kandungan Al-Quran bahwa keduanya mujarrab serta bisa menyembuhkan semua penyakit. Kemudian ia mengikuti petunjuk dilabel kotak habbatus sauda’ bahwa pengunaannya 3 x sehari 2 kapsul habbtus sauda. ia juga meminum madu 3 x sehari 2 sendok makan. Akan tetapi demamnya semakin tinggi, tidak mereda dan bertambah parah.

    Kemudian kasus lainnya, seseorang sedang demam tinggi, kemudian ia teringat hadits bahwa demam adalah dari luapan api neraka maka didinginkan dengan air. Maka dengan demam tinggi badannya di basuh dengan air yang dingin. Walhasil pernyakit bertambah parah dan tubuh dengan demam tinggi tidak mampu menerima air yang dingin. Padahal yang dimaksud hadits adalah demam karena sengatan matahari (akan datang penjelasan dari para ulama mengenai hadits tersebut)

    Demikianlah kesalahpahaman yang terjadi pada beberapa orang muslimin yang perlu kita luruskan bersama. Habbatus sauda’ yang disebutkan dalam hadits dan madu yang disebutkan dalam Al-Quran masih berupa bahannya saja maka untuk menjadi obat perlu penelitian dan pengalaman thabib agar ia menjadi obat.
    Kita bisa ambil Logika sebagai berikut. Jika ada yang mengatakan kepada kita, buah merah dijadikan berbagai macam obat penyakit oleh orang Papua. Maka berita yang sampai ke kita masih sekedar berita mengenai bahannya saja. Untuk menjadi obat maka kita perlu belajar kepada thabib orang Papua, bagaimana pengolahan buah merah? dosisnya berapa? Indikasinya untuk penyakit apa saja? Perlu dicampur dengan apa saja? Apa saja pantangan yang tidak boleh dilakukan? Dan tentu saja kita juga perlu belajar kepada thabib tersebut bagaimana ia mendiagnosis penyakit. Jika penyakit ini yang ia maksud, maka dosis buah merah sekian dan cara pengolahannya begini dan begitu.
  • Nutrisi 1000 Hari Pertama Kehidupan

    Oleh: Yuli Mardianti, S.Gz

    Kualitas nutrisi dan kesehatan ibu dan anak sejak masa pra kehamilan, masa kehamilan, dan masa menyusui adalah sangat kritis. Siklus 1000 hari dimulai sejak masa kehamilan selama 9 bulan (270 hari) hingga masa kehidupan pertama bayi selama 2 tahun (730 hari). Mengapa 1000 hari pertama ini sangatlah menentukan kualitas kehidupannya di masa mendatang? Di dalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui pertambahan berat dan panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ lainnya seperti jantung, hati, dan ginjal.

    Pada saat dilahirkan, sebagian besar perubahan tersebut menetap atau selesai, kecuali beberapa fungsi, yaitu perkembangan otak dan imunitas, yang berlanjut sampai beberapa tahun pertama kehidupan bayi. Oleh karenanya kekurangan nutrisi sejak dalam kandungan dan periode awal kehidupannya akan berdampak pada tumbuh kembangnya dalam jangka waktu yang panjang. Dampak tersebut diantaranya adalah tidak optimalnya perkembangan sel otak dan organ tubuh lainnya. Sehingga di kemudian hari anak akan tumbuh menjadi anak yang stunting, kemampuan kognitif yang lemah serta beresiko terkena penyakit tidak menular seperti anemia, hipertensi, diabetes dan lain-lain.

    Banyak yang berpendapat bahwa ukuran fisik, termasuk tubuh pendek, gemuk dan beberapa penyakit tertentu khususnya Penyakit Tidak Menular (PTM) disebabkan oleh faktor genetik. Dengan demikian ada anggapan tidak banyak yang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau mengubahnya. Namun berbagai bukti ilmiah dari banyak penelitian oleh lembaga riset gizi dan kesehatan di dunia telah mengubah paradigma tersebut. Menurut WHO (1997) tubuh pendek, gemuk, PTM dan beberapa indikator kualitas hidup lainnya, faktor penyebab terpenting adalah lingkungan hidup sejak konsepsi sampai anak usia 2 tahun yang dapat dirubah dan diperbaiki.
  • Ikhtiar Agar Anak Pintar Antara Mitos dan Fakta

    Oleh : dr. Avie Andriyani

    Jangan Asal Percaya Mitos
    Banyak mitos yang beredar di sekitar kita dan kebanyakan tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Berikut ini beberapa mitos yang keliru namun masih banyak yang percaya :

    Mitos : Susu formula dapat mencetak anak pintar
    Saat ini, para produsen sangat gencar mempromosikan produk susu formulanya. Mulai dari memasang model iklan yang lucu dan menggemaskan hingga mengklaim bahwa produknya dapat membuat anak menjadi pintar dan berprestasi. Gambaran anak ”ideal” ditanamkan ke benak para orangtua sehingga orangtua merasa belum memberikan yang terbaik jika belum memberikan susu dengan harga mahal pada buah hatinya. Orangtua cenderung lebih khawatir jika anaknya tidak mau minum susu dibanding jika anaknya tidak mau makan, karena menganggap susu sebagai minuman ”super” yang mampu mencukupi segala kebutuhan nutrisi anak.

    Lebih parahnya lagi, keberadaan susu formula ini lambat laun mulai menggantikan posisi ASI yang merupakan hak bagi seorang anak. Mobilitas dan kesibukan kaum wanita yang makin tinggi membuat susu formula menjadi pilihan sebagai pengganti ASI dan aktivitas menyusui.

    Faktanya, susu formula tidak akan mampu menandingi ASI meski kandungannya dibuat sedemikian rupa supaya mendekati komposisi ASI. Banyak sekali kekurangan dari susu formula jika dibandingkan dengan ASI. Mulai dari kompisisinya yang tidak mungkin setepat ASI, kemungkinan terkontaminasi, tidak ekonomis, kurang praktis dan kurang higienis. Untuk itu, sebaiknya orangtua tidak terkecoh dengan iklan susu. Semahal apapun susu yang diberikan, jika tidak diimbangi dengan stimulasi yang memadai dari lingkungan sekitar maka tidak akan mencapai hasil yang maksimal.
  • Kedokteran Modern Tidak Bertentangan Dengan Herbal dan Thibbun Nabawi

    Oleh: dr. Raehanul Bahraen

    Ada sebagian kecil kaum muslimin yang masih kurang memahami prinsip thibbun nabawi. Mereka terlalu kaku dan keras, atau bisa jadi ada kepentingan dunia dan bisnis dibalik hal ini. Mereka salah paham mengenai pengobatan khususnya thibbun nabawi dan kedokteran barat modern.

    Kesalahpahaman tersebut berdampak timbul angapan bahwa kedokteran barat modern bertentangan semua dengan thibbun nabawi, sikap anti total terhadap pengobatan barat modern, kemudian jika memilih pengobatan selain thibbun nabawi berarti tidak cinta kepada sunnah serta dipertanyakan keislamannya. Padahal kedokteran barat modern bisa dikombinasikan dengan thibbun nabawi atau dipakai bersamaan. Dan juga ada beberapa tulisan-tulisan mengenai hal ini yang menyebar melalui dunia nyata dan dunia maya. Oleh karena itu, dengan mengharap petunjuk dari Allah Ta’ala kami mencoba mengangkat tema ini.

    Beberapa kesalahpahaman
    Ada yang beranggapan bahwa jika sakit seseorang harus bahkan wajib berobat dengan thibbun nabawi, kemudian ditambah lagi dengan adanya anggapan yang kurang benar mengenai kedokteran modern misalnya,
    - Berasal dari orang kafir
    - Menggunakan bahan kimia yang hanya berbahaya bagi tubuh
    - Jika tidak menggunakan pengobatan nabawi berarti tidak memilih pengobatan nabawi dan tidak mengikuti sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaii wa sallam.
  • Allah yang Menyembuhkan

    Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan,

    وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

    “Jika aku sakit maka Dialah yang menyembuhkanku” (Asy Syuara:80).
    Dalam ayat ini Nabi Ibrahim memuji Allah, tuhannya, dengan mengatakan bahwa jika dia tertimpa musibah maka Allah yang menyembuhkannya.
    Ayat ini menunjukkan bahwa diantara bentuk musibah adalah penyakit. Penyakit sebagaimana musibah selainnya jika terjadi pada seorang muslim maka itu akan menjadi sebab Allah menghapus dosa dosanya. Dari Abu Said dan Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

    “Tidaklah seorang mukmin tertimpa rasa sakit, lelah, penyakit, sedih karena teringat hal yang telah terjadi, tidak pula kegalauan karena memikirkan hal yang belum terjadi kecuali itu semua menjadi sebab Allah menghapus kesalahan kesalahannya” (HR Muslim).

    Musibah berupa sakit adalah diantara takdir yang Allah tetapkan atas seorang hamba. Musibah ini akan terasa lebih ringan manakala kita menyadari bahwa ini adalah bagian dari takdir yang pasti terjadi dan tidak akan terhindar dari diri kita.
    Ketika menjelaskan manfaat mengimani takdir, Allah Ta’ala berfirman,

    لِكَيْ ا ل تَأْسَوْا عَ ى ل مَا فَاتَكُمْ وَ لا لا تَفْرَحُوا م بَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ )ََ لا لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ )

    “ Supaya kalian tidak terlalu berlalu bersedih akan kenikmatan yang hilang dari diri kalian dan kalian tidak sombong dengan nikmat yang kalian dapatkan. Allah itu tidak menyukai seorang orang yang sombong dengan perkataan maupun perbuatannya” (Al-Hadid: 23).
  • Copyright © 2013 - Unbreakable Machine Doll - Ilmu Bermanfaat - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan