Landasan Teori
Anda masih ingat judul atau topik yang akan Anda teliti? Apakah masalah penelitiannya sudah dirumuskan
dengan rinci (artinya
ada rumusan masalah umum dan rumusan masalah khusus)? Jika sudah, coba Anda kaji ada berapa
variabel yang ada dalam rumusan judul penelitian Anda tersebut dan variabel- variabel
apa saja yang akan Anda kaji
lebih rinci?
Jika belum, maka sebaiknya Anda
rumuskan dulu
judul dan masalah penelitiannya dengan
lengkap
sehingga akan dapat membantu Anda dalam
mempercepat pemahaman untuk mempelajari modul ini.
Setiap kali melakukan penelitian, peneliti harus terlebih dahulu mengkaji
teori yang relevan dengan masalah
penelitian. Untuk dapat melakukan pengkajian teori sebagai landasan
landasan penelitian, peneliti terlebih dahulu harus memahami konse-konsep dasar tentang teori.
A. Pengertian Teori
Istilah teori telah banyak diungkap oleh beberapa ahli. Sukmadinata
(1999: 17) menyatakan
bahwa “teori merupakan suatu set atau
sistem pernyataan (a set of statement) yang menjelaskan serangkaian hal”.
Teori merupakan
abstraksi
dari
pengetahuan pengertian
atau
hubungan dari
proporsi atau dalil. Menurut Kerlinger dalam Nazir (2005:19) menyatakan
bahwa teori adalah sebuah set konsep atau construct yang berhubungan
satu
dengan yang lainnya, suatu set dari proporsi yang mengandung suatu pandangan sistematis dan fenomena.
Menurut Sukmadinata (1999: 17) ada tiga kelompok karakteristik utama sistem pernyataan suatu teori.
Pertama, pernyataan
dalam suatu
teori
bersifat memadukan (unifying statement). Kedua, pernyataan tersebut berisi
kaidah-kaidah umum
(universal
preposition).
Ketiga, pernyataan bersifat neramalkan (predictive
statement).
Rose dalam
Sukmadinata
(1999:18)
menyatakan bahwa
karakteristik pernyataan
(set of statement) tersebut
meliputi definisi, asumsi, dan kaidah-kaidah umum. Dalam rumusan yang lebih kompleks, teori
ini juga menyangkut hukum-hukum, hipotesis, dan deduksi-deduksi yang logis-sistematis. Teori harus mampu menjangkau ke
depan, bukan hanya menggambarkan apa adanya tetapi mampu meramalkan (prediktif)
apa yang akan terjadi
atas suatu hal.
Nazir (2005:19)
menyatakan bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan jika ingin mengenal
teori.
Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Teori adalah sebuah set proposisi yang terdiri atas konstrak (construct) yang sudah didefinisikan secara luas dan dengan hubungan unsur-unsur
dalam set tersebut secara jelas pula.
2. Teori menjelaskan hubungan antarvariabel atau antarkonstrak (construct)
sehingga pandangan
yang sistematis dari
fenomena-fenomena
yang
diterangkan oleh variabel dengan jelas kelihatan.
3. Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan variabel
mana yang berhubungan dengan variabel
mana.
Merawat Anak yang Terkena KIPI
Oleh: Arif Rohman Mansur, S.Kep.Ns
Definisi KIPI
Pembaca majalah kesehatan muslim yang semoga dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama membahas tentang cara merawat anak yang mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau dalam istilah bahasa inggris dikenal sbagai adverse event following Immunization (AEFI). Dalam ilmu kedokteran setiap jenis terapi biasanya memiliki risiko relatif (Relatif Risk) atau risiko yang mungkin timbul karena suatu terapi yang diberikan guna mencegah atau mengatasi suatu penyakit.
KIPI menurut KEPMENKES 1626 Tahun 2005 yaitu kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi, baik berupa efek vaksin ataupun efek samping, keracunan, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, kesalahan program, koinsidensi (faktor kebetulan), reaksi suntikan, atau hubungan sebab akibat tidak dapat ditentukan yang dapat terjadi setelah pemberian vaksin atau imunisasi pada anak. KIPI dapat terjadi dalam kurun waktu 24 jam sampai 12 bulan atau lebih selama diyakini oleh tenaga kesehatan dan masyarakat hal itu terjadi setelah pemberian imunisasi.
Yang perlu kita cermati bersama bahwa timbulnya risiko pada suatu pengobatan tidak selalu disebabkan oleh obat atau vaksin yang diberikan. Hal ini dapat terjadi karena kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta penyimpanan vaksin, kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, penyakit yang sebelumnya telah diderita atau semata-mata kejadian yang timbul secara kebetulan yaitu ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama di saat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakteristik serupa tetapi tidak mendapat imunisasi. Hal ini sesuai telaah laporan KIPI oleh Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine (IOM) USA menyatakan bahwa sebagian besar KIPI terjadi karena kebetulan saja. Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan (programmatic errors). Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi.
Definisi KIPI
Pembaca majalah kesehatan muslim yang semoga dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama membahas tentang cara merawat anak yang mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau dalam istilah bahasa inggris dikenal sbagai adverse event following Immunization (AEFI). Dalam ilmu kedokteran setiap jenis terapi biasanya memiliki risiko relatif (Relatif Risk) atau risiko yang mungkin timbul karena suatu terapi yang diberikan guna mencegah atau mengatasi suatu penyakit.
KIPI menurut KEPMENKES 1626 Tahun 2005 yaitu kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi, baik berupa efek vaksin ataupun efek samping, keracunan, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, kesalahan program, koinsidensi (faktor kebetulan), reaksi suntikan, atau hubungan sebab akibat tidak dapat ditentukan yang dapat terjadi setelah pemberian vaksin atau imunisasi pada anak. KIPI dapat terjadi dalam kurun waktu 24 jam sampai 12 bulan atau lebih selama diyakini oleh tenaga kesehatan dan masyarakat hal itu terjadi setelah pemberian imunisasi.
Yang perlu kita cermati bersama bahwa timbulnya risiko pada suatu pengobatan tidak selalu disebabkan oleh obat atau vaksin yang diberikan. Hal ini dapat terjadi karena kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta penyimpanan vaksin, kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, penyakit yang sebelumnya telah diderita atau semata-mata kejadian yang timbul secara kebetulan yaitu ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama di saat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakteristik serupa tetapi tidak mendapat imunisasi. Hal ini sesuai telaah laporan KIPI oleh Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine (IOM) USA menyatakan bahwa sebagian besar KIPI terjadi karena kebetulan saja. Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan (programmatic errors). Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi.
Abu Sa’id Al-Khudri Mengobati Menggunakan Al-Fatihah
Terdapat satu kisah sahabat Abu Sa’id Al-Khudri yang mengobati dengan membaca bacaan ruqyah kepada orang yang terkena gigitan racun kalajengking. Beliau menggunakan A-Fatihah sebagai bacaan ruqyah dan berhasil. Yang sebelumnya hampir lumpuh tidak bisa berjalan, tiba-tiba sembuh seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Berikut kisahnya dalam hadits,
لِفى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنّ سَيّدَ الْحَىّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَ ر بَأَ الرّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَ ى ب أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنّبِىّ -ص ى الله عليه لِ
وسلم-. فَأَ ىت ىت النّبِىّ -ص ى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللّهِ وَاللّهِ مَا رَقَيْتُ لَخُذُوا مِنْهُمْ وَا ر ضِبُوا ى ل « ثُمّ قَالَ .» وَمَا أَدْرَاكَ أَنّهَا رُقْيَةٌ « إِ لالّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسّمَ وَقَالَ
» بِسَهْمٍ مَعَكُمْ
“Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu berada dalam perjalanan safar, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyahkarena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al Fatihah. pembesar tersebutpun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya -dan disebutkan-, ia mau menerima sampai kisah tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al Fatihah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah?” Beliau pun bersabda, “Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
لِفى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنّ سَيّدَ الْحَىّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَ ر بَأَ الرّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَ ى ب أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنّبِىّ -ص ى الله عليه لِ
وسلم-. فَأَ ىت ىت النّبِىّ -ص ى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللّهِ وَاللّهِ مَا رَقَيْتُ لَخُذُوا مِنْهُمْ وَا ر ضِبُوا ى ل « ثُمّ قَالَ .» وَمَا أَدْرَاكَ أَنّهَا رُقْيَةٌ « إِ لالّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسّمَ وَقَالَ
» بِسَهْمٍ مَعَكُمْ
“Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu berada dalam perjalanan safar, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyahkarena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al Fatihah. pembesar tersebutpun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya -dan disebutkan-, ia mau menerima sampai kisah tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al Fatihah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah?” Beliau pun bersabda, “Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Benarkah Tahnik Adalah Imunisasi dalam Islam?
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Sekelompok orang mengklaim bahwa tahnik adalah imunisasi dalam ajaran Islam atau diklaim sebagai imunisasi yang Islami. Pendapat ini umumnya diusung oleh kelompok antivaksin untuk menolak vaksinasi.
Dalam tulisan ini, kami akan membawakan beberapa penjelasan ulama mengenai hikmah tahnik. Dari beberapa penjelasan ulama disimpulkan bahwa ternyata pernyataan “tahnik adalah imunisasi dalam islam” tidak tepat. Berikut pembahasannya
Definisi Tahnik dan Hadits-hadits Tentang Tahnik
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan pengertian tahnik,“Tahnik ialah mengunyah sesuatu kemudian meletakkan/ memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit (mulut)nya. Dilakukan demikian kepada bayi agar supaya ia terlatih terhadap makanan dan untuk menguatkannya. Dan yang patut dilakukan ketika mentahnik hendaklah mulut (bayi tersebut) dibuka sehingga (sesuatu yang telah dikunyah) masuk ke dalam perutnya. Dan yang lebih utama (ketika) mentahnik ialah dengan kurma kering (tamr). Jika tidak mudah mendapatkan kurma kering (tamr) maka dengan kurma basah (ruthab) . Dan kalau tidak ada kurma dengan sesuatu yang manis dan tentunya madu lebih utama dari yang lainnya (kecuali kurma)". (Fathul Baari 9/558)
Hadits-hadist mengenai tahnik di antaranya :
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Burdah dari Abu Musa, dia berkata,
وُلِدَ ى ل غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -ص ى الله عليه وسلم- لِ
فَسَ ا مَهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍّ
Sekelompok orang mengklaim bahwa tahnik adalah imunisasi dalam ajaran Islam atau diklaim sebagai imunisasi yang Islami. Pendapat ini umumnya diusung oleh kelompok antivaksin untuk menolak vaksinasi.
Dalam tulisan ini, kami akan membawakan beberapa penjelasan ulama mengenai hikmah tahnik. Dari beberapa penjelasan ulama disimpulkan bahwa ternyata pernyataan “tahnik adalah imunisasi dalam islam” tidak tepat. Berikut pembahasannya
Definisi Tahnik dan Hadits-hadits Tentang Tahnik
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan pengertian tahnik,“Tahnik ialah mengunyah sesuatu kemudian meletakkan/ memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit (mulut)nya. Dilakukan demikian kepada bayi agar supaya ia terlatih terhadap makanan dan untuk menguatkannya. Dan yang patut dilakukan ketika mentahnik hendaklah mulut (bayi tersebut) dibuka sehingga (sesuatu yang telah dikunyah) masuk ke dalam perutnya. Dan yang lebih utama (ketika) mentahnik ialah dengan kurma kering (tamr). Jika tidak mudah mendapatkan kurma kering (tamr) maka dengan kurma basah (ruthab) . Dan kalau tidak ada kurma dengan sesuatu yang manis dan tentunya madu lebih utama dari yang lainnya (kecuali kurma)". (Fathul Baari 9/558)
Hadits-hadist mengenai tahnik di antaranya :
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Burdah dari Abu Musa, dia berkata,
وُلِدَ ى ل غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -ص ى الله عليه وسلم- لِ
فَسَ ا مَهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍّ
ASI Sebagai “Imunisasi” Alami
Penulis : dr. Avie Andriyani
ASI Merupakan Makanan Terbaik Bagi Bayi Tidak diragukan lagi mengenai keunggulan ASI (Air
Susu Ibu) yang merupakan makanan terbaik bagi bayi. Hampir semua kalangan, termasuk dunia kedokteran
ikut menganjurkan supaya ibu lebih memilih ASI dibandingkan susu sapi atau susu formula. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَ كَامِلَ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ“
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan… “ (Al-Baqarah 233)
Sungguh disayangkan masih banyak ibu yang enggan menyusui bayinya, hanya karena alasan sibuk bekerja, untuk menjaga penampilan, dan alasan-alasan lain. Padahal, berbagai penelitian telah membuktikan ada banyak sekali manfaat ASI dan menyusui, baik bagi bayi maupun bagi sang ibu. Selain
aman, higienis, bergizi, dan ekonomis, ASI juga mengandung zat-zat kekebalan tubuh yang tidak dimiliki oleh susu formula yang termahal sekalipun. Bahkan ketika produsen susu berlomba-lomba meniru komposisi ASI, maka tidak akan bisa menirunya dengan tepat.
Terbukti bahwa bayi yang mendapat ASI kurang berisiko mengalami berbagai infeksi, seperti infeksi saluran nafas bagian bawah, infeksi saluran kemih, infeksi telinga, dan septisemia (infeksi darah) di tahun pertama kehidupannya. Sebagian perlindungannya ini karena proses pemindahan faktor-faktor imun (kekebalan tubuh) di dalam ASI dan bahan pra-susu atau kolostrum.
ASI Merupakan Makanan Terbaik Bagi Bayi Tidak diragukan lagi mengenai keunggulan ASI (Air
Susu Ibu) yang merupakan makanan terbaik bagi bayi. Hampir semua kalangan, termasuk dunia kedokteran
ikut menganjurkan supaya ibu lebih memilih ASI dibandingkan susu sapi atau susu formula. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَ كَامِلَ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ“
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan… “ (Al-Baqarah 233)
Sungguh disayangkan masih banyak ibu yang enggan menyusui bayinya, hanya karena alasan sibuk bekerja, untuk menjaga penampilan, dan alasan-alasan lain. Padahal, berbagai penelitian telah membuktikan ada banyak sekali manfaat ASI dan menyusui, baik bagi bayi maupun bagi sang ibu. Selain
aman, higienis, bergizi, dan ekonomis, ASI juga mengandung zat-zat kekebalan tubuh yang tidak dimiliki oleh susu formula yang termahal sekalipun. Bahkan ketika produsen susu berlomba-lomba meniru komposisi ASI, maka tidak akan bisa menirunya dengan tepat.
Terbukti bahwa bayi yang mendapat ASI kurang berisiko mengalami berbagai infeksi, seperti infeksi saluran nafas bagian bawah, infeksi saluran kemih, infeksi telinga, dan septisemia (infeksi darah) di tahun pertama kehidupannya. Sebagian perlindungannya ini karena proses pemindahan faktor-faktor imun (kekebalan tubuh) di dalam ASI dan bahan pra-susu atau kolostrum.
Imunisasi Dalam Pandangan Syariat
Penyusun : dr. Raehanul Bahraen
Status halal-haram imunisasi dan vaksinasi menjadi perdebatan yang sengit dan bahkan “panas”. Bak di luar negeri maupun di Indonesia, terlebih lagi negara kita mayoritas muslim. Berikut sedikit pembahasan mengenai hal ini.
Setelah berkonsultasi dan berdiskusi dengan beberapa ustadz dan melihat beberapa fatwa ulama, hati kami merasa lebih tentram dengan condong bahwa imunisasi insyaAllah halal. Wallahu ‘alam, kami memang punya dasar pendidikan kedokteran, mungkin ada yang mengira kami terpengaruh oleh ilmu kami sehingga mendukung imunisasi dan vaksinasi. Akan tetapi, justru karena kami punya dasar ilmu tersebut, kami bisa menelaah lebih dalam lagi dan mencari fakta-fakta yang kami rasa lebih menentramkan hati kami. Berikut kami berusaha menjabarkannya dan menjawab apa yang menjadi alasan mereka menolak imunisasi.
Vaksin haram?
Ini yang cukup meresahkan karena Indonesia sebagian besar muslim. Namun mari kita kaji, kita ambil contoh vaksin polio atau vaksin meningitis dengan produksinya menggunakan enzim tripsin dari serum babi. Belakangan ini menjadi buah bibir karena cukup meresahkan jama’ah haji yang diwajibkan pemerintah Arab Saudi vaksin, karena mereka tidak ingin terkena atau ada yang membawa penyakit tersebut ke jama’ah haji di Mekkah.
Banyak penjelasan berbagai pihak, salah satunya dari Direktur Perencanaan danPengembangan PT. Bio Farma, Drs. Iskandar, Apt., M., mengatakan bahwa enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV).
Status halal-haram imunisasi dan vaksinasi menjadi perdebatan yang sengit dan bahkan “panas”. Bak di luar negeri maupun di Indonesia, terlebih lagi negara kita mayoritas muslim. Berikut sedikit pembahasan mengenai hal ini.
Setelah berkonsultasi dan berdiskusi dengan beberapa ustadz dan melihat beberapa fatwa ulama, hati kami merasa lebih tentram dengan condong bahwa imunisasi insyaAllah halal. Wallahu ‘alam, kami memang punya dasar pendidikan kedokteran, mungkin ada yang mengira kami terpengaruh oleh ilmu kami sehingga mendukung imunisasi dan vaksinasi. Akan tetapi, justru karena kami punya dasar ilmu tersebut, kami bisa menelaah lebih dalam lagi dan mencari fakta-fakta yang kami rasa lebih menentramkan hati kami. Berikut kami berusaha menjabarkannya dan menjawab apa yang menjadi alasan mereka menolak imunisasi.
Vaksin haram?
Ini yang cukup meresahkan karena Indonesia sebagian besar muslim. Namun mari kita kaji, kita ambil contoh vaksin polio atau vaksin meningitis dengan produksinya menggunakan enzim tripsin dari serum babi. Belakangan ini menjadi buah bibir karena cukup meresahkan jama’ah haji yang diwajibkan pemerintah Arab Saudi vaksin, karena mereka tidak ingin terkena atau ada yang membawa penyakit tersebut ke jama’ah haji di Mekkah.
Banyak penjelasan berbagai pihak, salah satunya dari Direktur Perencanaan danPengembangan PT. Bio Farma, Drs. Iskandar, Apt., M., mengatakan bahwa enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV).
Imunisasi Dalam Pandangan Medis
Imunisasi adalah investasi kesehatan masa depan karena pencegahan penyakit melalui imunisasi merupakan cara perlindungan paling efektif terhadap penyakit infeksi dan jauh lebih murah dibanding mengobati seseorang apabila telah jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.
Dengan imunisasi, anak akan terhindar dari penyakit infeksi berbahaya sehingga mereka memiliki kesempatan beraktifitas, bermain, belajar tanpa terganggu masalah kesehatan. Namun demikian, sampai saat ini masih terdapat masalah-masalah dalam pemberian imunisasi, antara lain pemahaman orang tua yang masih kurang pada sebagian masyarakat tentang manfaat imunisasi, mitos salah tentang imunisasi, sampai jadwal imunisasi yang terlambat.
Kesehatan adalah Dambaan Setiap Insan
Merupakan keinginan semua orang tua untuk mempunyai anak yang sehat, tidak sakit, dan tidak cacat, serta memiliki pertumbuhan dan perkembangannya optimal. Paradigma anak sehat meliputi sehat fisik, sehat kognitif dan sehat emosi-sosial-moral.
Sehat fisik, artinya pertumbuhan dan perkembangan fisik optimal, ditunjukkan dengan perubahan tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, pematangan fungsi organ-organ tubuh sesuai dengan umur. Sehat kognitif, artinya anak mempunyai kemampuan untuk mengenali, mengerti, mengingat, membandingkan, mencocokkan, menggabungkan, merangkai, mengekspresikan, menghasilkan ide, pengetahuan, dan ketrampilan baru. Sehat emosi-sosial-moral, artinya anak gembira, berani, optimis, percaya diri, dapat mengeksplorasi lingkungan, dapat mengendalikan diri, beradaptasi dengan lingkungan, mengerti baik-buruk, benar-salah, boleh-tidak boleh.
Dengan imunisasi, anak akan terhindar dari penyakit infeksi berbahaya sehingga mereka memiliki kesempatan beraktifitas, bermain, belajar tanpa terganggu masalah kesehatan. Namun demikian, sampai saat ini masih terdapat masalah-masalah dalam pemberian imunisasi, antara lain pemahaman orang tua yang masih kurang pada sebagian masyarakat tentang manfaat imunisasi, mitos salah tentang imunisasi, sampai jadwal imunisasi yang terlambat.
Kesehatan adalah Dambaan Setiap Insan
Merupakan keinginan semua orang tua untuk mempunyai anak yang sehat, tidak sakit, dan tidak cacat, serta memiliki pertumbuhan dan perkembangannya optimal. Paradigma anak sehat meliputi sehat fisik, sehat kognitif dan sehat emosi-sosial-moral.
Sehat fisik, artinya pertumbuhan dan perkembangan fisik optimal, ditunjukkan dengan perubahan tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, pematangan fungsi organ-organ tubuh sesuai dengan umur. Sehat kognitif, artinya anak mempunyai kemampuan untuk mengenali, mengerti, mengingat, membandingkan, mencocokkan, menggabungkan, merangkai, mengekspresikan, menghasilkan ide, pengetahuan, dan ketrampilan baru. Sehat emosi-sosial-moral, artinya anak gembira, berani, optimis, percaya diri, dapat mengeksplorasi lingkungan, dapat mengendalikan diri, beradaptasi dengan lingkungan, mengerti baik-buruk, benar-salah, boleh-tidak boleh.
Langganan:
Postingan (Atom)

