Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan
  • Kutitip Surat Ini Untukmu


    Bismillaahirrahmaanirrahiim
    Disalin ulang dari buku 'Kutitip Surat Ini Untukmu..' karya alUstadz Armen Halim Naro -rahimahullah-.
    Terbitan Nadwah Publishing - Pekanbaru.
    Kutitip surat ini, anakku!
    Ananda yang kusayangi, di bumi Allah Ta'ala..
    Segala puji Ibu panjatkan ke hadirat Allah yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amiin..
    Wahai anakku,
    Surat ini datang dari ibumu yang selalu dirundung sengsara.. Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap itu pula goresan tulisan terhalangi oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka..
  • Sang Ibu



    Seorang Ibu terduduk di kursi rodanya suatu sore di tepi danau, ditemani Anaknya yang sudah mapan dan berkeluarga.

    Si ibu bertanya ” itu burung apa yg berdiri disana ??”
    “Bangau mama” anaknya menjawab dengan sopan.
    Tak lama kemudian si mama bertanya lagi..
    “Itu yang warna putih burung apa?”
    sdikit kesal anaknya menjawab ” ya bangau mama?…”

    Kemudian ibunya kembali bertanya
    ” Lantas itu burung apa ?” Ibunya menunjuk burung bangau tadi yg sedang terbang…

    Dengan nada kesal si anak menjawab “ya bangau mama. kan sama saja!..emanknyamama gak liat dia terbang!”

    Air menetes dari sudut mata si mama sambil berkata pelan..”Dulu 26 tahun yang lalu aku memangku mu dan menjawab pertanyaan yg sama untuk mu sebanyak 10 kali,..sedang saat ini aku hanya bertanya 3 kali, tapi kau membentak ku 2 kali..”

    Si anak terdiam…dan memeluk mamanya.

  • Izinkan Aku Menciummu, Ibu


     
    Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

    Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

    Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
  • Copyright © 2013 - Unbreakable Machine Doll - Ilmu Bermanfaat - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan